Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Jambi menjadi Pembicara pada webinar Suku Anak Dalam (SAD) Go To Campus

Layanan pendidikan merupakan salah satu Program yang Pundi Sumatera lakukan dalam pemberdayaan komunitas Suku Anak Dalam (SAD) di beberapa lokasi dampingan. Tidak hanya mengajarkan baca tulis hitung (Calistung) tapi juga memfasilitasi anak-anak untuk mengakses pendidikan sekolah formal. Di tahun 2020 ini, sebanyak 3 orang anak telah menyelesaikan pendidikan di tingkat SLTA dan 2 diantaranya bermaksud melanjutkan ke jenjang Universitas. Peran pemerintah daerah dan kampus tentu saja menjadi pihak yang sangat penting dalam mendukung situasi ini. Tidak hanya tentang sebuah kebijakan yang harusnya lahir, tapi juga soal komitmen kampus untuk menyediakan lingkungan pendidikan yang inklusif bagi komunitas SAD.

Bertepatan dengan Peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli 2020, Pundi Sumatera menggelar webinar Talkshow untuk mendiskusikan ini dalam acara SAD GOES TO CAMPUS, dengan tema “Kebijakan dan Peran Kampus Dalam Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif Bagi Komunitas Suku Anak Dalam (SAD)”

Pembicara:

  1. Dr. Nurdin, SE, ME (Rektor Universitas Muhammadyah Jambi)
  2. M Ridwan, SKM, M. PH (Dosen FKIK Universitas Jambi)
  3. H Deddy Irawan, SE, MM (Kepala Bappeda Kabupaten Bungo)
  4. Dewi Yunita W (Direktur Program Pundi Sumatera)
  5. Nice Nurhayati (Pegiat Pemberdayaan SAD)

Webinar ini diModeratori Oleh : Syafrizaldi Jpang @beingindo

Webinar ini dilaksanakan pada Kamis, 23 Juli 2020 Pukul 09.30 s/d 12.30 WIB melalui zoom meeting.

Diakhir statment Rektor UM Jambi menyampaikan harapannya yaitu beliau berharap bahwa calon mahasiswa dari SAD ini bisa berkuliah yang intinya bagaimana caranya kedua orang SAD itu bisa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.


Selama webinar berlangsung ibu Dewi Yunita W selaku Direktur Program Pundi Sumatera mengatakan “saya sangat berterima kasih sekali kepada semua panitia webinar ini. saya berharap sebetulnya bukan hanya kepada pemerintah daerah, pemerintah daerah juga sudah semakin banyak mengalami perubahan sudah banyak program dan kebijakan yang semakin inklusif itu kami lihat dari perubahannya dari tahun 2011 sampai hari ini itu sudah banyak sekali mengalami perubahan, begitupun banyak pihak-pihak yang sudah mulai semakin besar punya kepedulian terhadap komunitas ini.
kita ini adalah orang luar, orang luar yang cepat atau lambat kita pasti akan meninggalkan mereka, kita tidak mungki seumur hidup akan berada di komunitas suku anak dalam, begitupun pak Nurdin, pak Ridwan, pak Dedi, Nice, jadi esensinya adalah pemberdayaan ini harusnya memandirikan mereka, bagaimana mereka bisa sendiri tanpa kita, jadi itu jangan lupa. Jadi bagaimana porsi pendampingitu harusnya semakin lama itu semakin mengecil, justru kita harus menghadirkan kader-kader lokal yang bisa mengambil alih proses ini jadi yang besar itu adalah komunitasnya, tapi kita harus menyusun strategi bagaimana lambat laun itu kita harus keluar dari zona itu, mudah-mudahan kita semua yang hadir disini punya komitmen yang sama jadi kita tidak bermaksud memanjakan mereka justru kita bertujuan memandirikan mereka bagaimana mereka bisa sama seperti kita berdaya bisa tanpa kita melakukan semua ini menuju kehidupan yang lebih baik”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *